Boomee

Dimas Novriandi: Tentang Passion di Dunia Digital dan Media Sosial

Suasana kantor agensi digital XM Gravity tampak ramai pada Rabu (8/1) sore. Sekilas tidak terasa bahwa tempat itu adalah kantor, lebih cocok jika disamakan dengan ruang kelas SMA pada waktu istirahat.

Ada segerombolan karyawan perempuan saling bercanda. Sekelompok lainnya tampak heboh mengomentari foto karyawan yang iseng ditempel seseorang di buletin kantor. Dari ruangan lain, terdengar alunan lagu dari film animasi Frozen yang tayang dibioskop beberapa waktu lalu.

Tak lama mengamati suasana kantor yang kerap menangani berbagai aktivasi digital di Indonesia itu, sesosok lelaki datang menghampiri. Namanya Dimas Novriandi, ia pula alasan boomee mampir ke XM Gravity di Belleza Park kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

“Hahaha iya anak XM emang seru-seru banget,” ujar Dimas dengan ekspresi riang.

“Dari pengalaman saya bekerja di agensi, suasana kantor tuh selalu hening. Tapi di sini sangat lively. Semuanya anak muda, dan sangat kreatif. Jadi dari pagi sampai malam selalu heboh,” katanya mengimbuhkan.

Lalu, boomee pun duduk di ruangan Dimas. Tak ada yang terlihat istimewa, hanya meja kerja yang dikelilingi tiga kursi, dengan Macbook menyala di atasnya. Tidak ada aksesori tambahan, di meja atau pun dinding. Bahkan, masih samar tercium aroma cat.

“Maklum, ruangannya baru dibikin,” ujarnya.

dimas_novriandi

Sekilas tentang Dimas Novriandi. Ia adalah praktisi di dunia pemasaran digital. Pengalamannya pun mumpuni; baik sebagai pekerja agensi, atau eksekutif di perusahaan klien. Kini ia duduk sebagai General Manager XM Gravity, sejak Desember 2013.

Lelaki berkacamata ini mulai bekerja sejak kuliah di Yogyakarta, sebagai pekerja paruh waktu di outlet pakaian Dagadu. Saat itu juga ia sempat menjajal dunia penyiaran radio (Prambors Yogyakarta) dan televisi (TVRI stasiun Yogyakarta). “Pada 2008, saya selesai kuliah dan pindah ke Jakarta,” kisahnya.

Sejak itu kariernya mulai bergerak cepat. Sebelum akhirnya bergabung di XM Gravity, Dimas pernah mengelola perencanaan strategis di berbagai perusahaan lokal dan internasional; seperti Sampoerna, PRISM (perusahaan di Thailand, bagian dari WPP Group), Zalora Indonesia, dan XL Axiata.

“Banyak yang bilang loncatan saya cukup jauh, dari digital marketing specialist (di XL Axiata) langsung menjadi general manager. Bagi saya XM ini tempat yang tepat untuk mengembangkan diri, karena nggak cuma ngomongin strategi pemasaran digital, tapi juga soal client relationship. Ini tantangan besar buat saya,” jelasnya.

Ia pun menyatakan pencapaian kariernya tak bisa lepas dari hobi menulis yang digelutinya sejak SMP. “Waktu itu saya ikut organisasi surat kabar lokal dan tiap minggu nulis artikel. Jadi hobi saya yang sebenernya itu jurnalis. Pingin masuk jurusan komunikasi tapi gagal melulu,” ujar Dimas disusul tawa.

Dan kini kegemarannya menulis ia salurkan lewat dimasnovriandi.com dan akun Twitter @dimasnovriandi. Ia pun mendeskripsikan konten dan persona dirinya di media sosial: fun and witty.

Tapi ia bercerita, kini ada satu hal yang jadi perhatiannya soal berbagi di media sosial:

“Jadi, waktu itu saya dan beberapa teman di media sosial diundang presiden SBY ke Istana Cipanas. Setelah pertemuan itu tiba-tiba SBY follow saya, mas Agus Yudhoyono juga, dan pak Tifatul (Menkominfo) juga ikut follow. Jadi sekarang kalau nge-tweet agak mikir deh hahaha!”

Obrolan dengan Dimas  semakin asyik saat lebih dalam membahas dunia pemasaran digital dan media sosial yang jadi bagian dari kesehariannya. Tak kalah seru dengan suasana kantornya di luar ruangan tempat kami berbincang.

dimasnov

Dari duduk sebagai klien, kini menantang diri untuk mengedukasi klien…

Aneh nggak sih rasanya, sebelumnya di XL Axiata dan sekarang justru berada di sisi yang lain?
Awalnya sih awkward. Tapi sekarang sudah biasa saja, malah lebih kayak teman dengan tim XL. Setelah pindah ini, mereka memperlakukan saya secara profesional sebagai agensi, dan di luar urusan pekerjaan kami berteman baik. Pertemanan ini membuat proses berkomunikasi kami lebih enak.

Tapi, kenapa sih pindah dari XL Axiata? Dan kenapa memilih XM Gravity?
Saya merasa, “I need more challenge!” Bukan berarti di XL nggak ada tantangan, selalu ada. Tapi saya hanya ingin belajar lagi. Dan belajar paling cepat dan menyeluruh adalah di agensi.

Saat itu saya dapat tawaran dari beberapa agensi PR dan digital, hingga ketika saya berdiskusi dengan teman baik saya, Kevin (Kevin Mintaraga, saat itu masih sebagai Chief Executive Office XM Gravity, red.) bilang, “Kalo lo mau ke agensi, kenapa harus ke tempat lain instead of XM? Lo udah tau klien-kliennya, kenal anak-anaknya juga. Lebih mudah kan?”

Saya pikir, “Oh oke, bener juga. Apalagi XM Gravity salah satu digital agency terbaik di Indonesia”. Saya pindah dengan surrounding yang nyaman juga.

Ok, ngomong-ngomong tentang industri digital di Indonesia. Menurut Dimas gimana?
Iklim industri digital di Indonesia lagi sehat banget. Sekarang tantangannya adalah memberi pemahaman pada klien. Kadang klien nggak banyak tahu tentang dunia digital. Mikirnya, “Ah gitu doang kan gratis. Gampang, tinggal bikin akun doang trus selesai kan…”

Padahal kan nggak. Digital marketing, ketika masuk ke media sosial is not necessary for free semua. Ada penempatan juga. Bagaimana kita bikin aplikasinya, mengelola konten dan lainnya. Itu semua butuh biaya. Nah, banyak yang mesti dipahami di situ.

Bagaimana dengan anggapan bahwa iklan atau promosi di media konvensional masih lebih kuat dibandingkan jalur digital?
Saya nggak akan menyanggah. Tapi bisa saya pastikan kalau lewat jalur digital pesan tersampaikan dan tercatat dengan baik. Kita bisa menyasar demografi yang tepat, bahkan menyasar kebiasaan mereka.

Media konvensional, secara massal mungkin “dapet”. Tapi kalau mau di-breakdown, digital pun kini bisa memenuhi hal itu. Isu yang biasanya muncul dari korporasi adalah KPI (key performance indicator) gimana? Bisa tracking nggak? Semua itu bisa.

Asal jelas dari awal brief-nya. Targetnya apa, platform-nya, strateginya mau gimana, dan seterusnya. Dan tugas kami di agensi digital untuk bisa merumuskan hal-hal itu.

Apa sih kesalahan umum yang sering dilakukan pemasar digital?
Nggak punya strategi atau perencanaan konten yang baik. Ya mungkin strategi punya, tapi nggak tahu harus ngapain dengan konten.

Karena konten dianggap raja. Ketika semua strategi dijalani, tapi nggak punya konten bagus dan menarik, tidak ada update reguler, semua akan sia-sia. Buat apa kalau cuma punya? Sekadar beli followers atau friends? Will going nowhere juga.

Jadi ya harus memastikan, kalau punya satu channel ya harus maksimal dan diarahkan dengan baik. Itu paling basic, sebelum masuk ke strategic plan setahun ke depan.

Pernah menghadapi klien bitchy? Ada tips?
(Tertawa) Ini menarik! Saya dulu pernah punya klien bank saat di agensi PR (public relations, red.) Waktu itu saya merasa si klien benci dengan saya. Bahkan saya di-reply dengan capslock bahwa press release yang saya bikin busuk.

Agak tertohok sih saat itu. Apalagi saya orangnya nrimo, jadi mikir “Wah gila berarti gue bego banget ya…” Pengalaman itu bikin saya stres saat itu. Saya merasa tidak fit in dengan pekerjaan, which is wrong. Karena insiden itu harusnya membuat saya berpikir how to handle it, overcome it, dan manage the client.

Jadi sekarang itu yang saya tanamkan. Kalau klien bitchy pasti ada yang membuatnya tidak nyaman. Mungkin kerjaan kita kurang baik, atau dia mendapat tekanan dari bosnya. Yang jelas kita harus evaluasi pekerjaan kita.

Tempatkan diri di posisi klien. Kadang orang agensi nggak mau tahu perasaan klien. Nah, saya tahu karena bolak balik kerja di agensi dan klien. I’ve been there.

Sementara untuk klien, menurut saya nggak ada untungnya juga bitchy, karena your agency could be your boss someday. Banyak loh orang agensi yang pindah ke klien, and you will be doomed kalo pernah marah-marah sama dia. Begitupun sebaliknya.

Tentang media sosial dan karier di dunia digital… 

Untuk tahun ini, apakah channel media sosial yang ada saat ini masih akan populer?
Twitter, Facebook, dan YouTube masih akan populer setahun ini. Menurut saya, Google+ juga berpotensi naik. Karena untuk brand, Google+ punya keunggulan potensi meningkatkan SEO (search engine optimization). Jadi sekarang pun mulai banyak brand masuk Google+.

Kami sendiri mengedukasi brand kalau Google+ itu penting. Mungkin mereka akan mulai eksplorasi. Awalnya bisa jadi hanya mengisi konten, belum sampai engagement. Tapi setidaknya sudah mulai aware dengan Google+.

Kalau di Twitter, menurut Dimas akun seperti apa yang “nggak banget”?
Kayak Farhat Abbas sih (tertawa). Tapi somehow kita butuh orang kayak beliau.

Seperti apa harusnya di Twitter biar nggak terjebak jadi akun yang “nggak banget” itu?
Menurut saya, ketika muncul sebagai public figure tentu kontennya harus sesuai dengan keinginan masyarakat. Balik ke latar belakang kita, profesinya apa. Kalau cuma pingin marah-marah ya sebaiknya bikin akun alter-ego. Teman-teman blogger dan influencer paham itu.

Rata-rata mereka punya satu akun lain yang orang nggak tahu. Jadi, akun asli pencitraannya oke, seru, asik banget; tapi punya satu akun lagi yang isinya cuma marah-marah. Nah hal kayak gini mungkin mesti diedukasiin juga.

Harus dipahami orang secara umum bahwa apapun yang muncul di media sosial bakalan stay forever di dunia digital. Meski sudah dihapus, pasti ada aja orang pintar yang dengan berbagai cara menemukannya. Makanya, harus hati-hati banget.

Apa sih syaratnya supaya bisa survive berkarier di dunia digital ini?

  1. Passion, itu membedakan bekerja dan berkarier. You passion it. You work for it, and you’re happy.
  2. Kemauan belajar yang besar. Dunia digital ini sangat dinamis. Jadi sangat bagus untuk terus up-to-date dengan isu terkini.
  3. Perkuat communication and writing skill. Ini penting, bahkan dalam dimensi yang sederhana seperti menjawab e-mail. Berlatih nge-tweet dengan kalimat keren juga termasuk belajar.
  4. Berani mencoba.
Menangani stres dan mengejar keinginan mengajar…

Jam kerja kan panjang, gimana sih cara mengelola waktu untuk kehidupan sosial?
Menjadikan weekend sebagai waktu mengeksplorasi hobi. Harus dibuat bener-bener nggak ada kerjaan, nggak ada pitching, nggak ada apa-apa.

Di hari biasa, karena di XM masuk agak siang (sekitar pukul 10 pagi), jadi berbagai aktivitas saya ubah ke pagi. Mulai dari nge-gym, sampai ngopi pagi sama teman.

Selain itu juga stay connected dengan orang-orang di media sosial; misalnya berinteraksi di Twitter atau meninggalkan komentar di Facebook.

Kalau lagi stres dengan pekerjaan bagaimana mengelolanya?
Menulis itu menyembuhkan stres. Jadi kalau ada masalah apapun biasanya saya larinya ke nulis; misalnya ngeblog.

Tapi kalau stres soal kerjaan biasanya kuncinya komunikasi. That’s why buat saya sangat penting untuk terbuka pada tim kerja. Istilahnya bisa saling “ngehe-ngehein”. Menurut saya itu mengurangi stres.

Satu lagi obat stres juga, olahraga dan nongkrong.

Apa yang dianggap sebagai pencapaian terbesar?
Hmmm, agak sulit menentukannya. Mungkin, saya bisa bekerja sesuai passion itu pencapaian besar. Karena penemuan passion saya cukup lama dibandingkan orang lain.

Saya pikir passion saya dulu sesuai bidang studi kuliah (S1 Civil Law dan S2 Business Law, Universitas Gajah Mada, red.), ternyata nggak. Masuk bidang kerja jurnalistik, juga belum terjawab. Hingga akhirnya menemukan keseruan di dunia digital. And that’s my pleasure.

Masih ada yang ingin dikejar?
Dari dulu pingin jadi pengajar. Lima tahun ke depan saya pingin jadi expert di bidang digital, bidang komunikasi, and I wanna share it with people.

Saya ingin share ilmu dan pengalaman ke mahasiswa atau siswa sekolahan. Pingin banget punya kesempatan itu.

Menurut kamu, artikel ini
  • 3
  • 0
  • 0
  • 1
  • 0
Bagikan artikel ini

Beri komentar

Please enter the CAPTCHA text

© Copyright 2016 - Boomee.
Jl. Kerinci 1 No. 2, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE