Boomee

Bernardus Prasodjo, Mendadak Terkenal Karena Khong Guan

Awal November 2013, praktisi kesehatan Andreas Prasadja menemani ayahnya, Bernardus Prasodjo, berbelanja di hypermarket Carrefour.

Saat melewati rak makanan ringan, Andreas memanggil sang ayah, menunjuk kaleng Khong Guan, dan berujar, “Eh itu masih ada tuh yang dulu digambar.”

Andreas meminta ayahnya memegang kaleng Khong Guan (sekaligus Nissin) itu, lalu memotretnya dengan ponsel.

Foto itu pun dimuat di Facebook dan akun Twitter @prasadja dengan informasi bahwa Bernardus adalah penggambar ilustrasi di kedua kemasan tersebut.


 




 
Andreas maupun ayahnya tak menyangka, foto itu disambut ramai di media sosial. Memori tentang biskuit Khong Guan serta ilustrasi seorang ibu dan dua anak di kalengnya ternyata sangat melekat di benak banyak orang.

Apalagi, pertengahan 2013 ini, berbagai meme adaptasi gambar di kaleng Khong Guan itu sempat beredar di media sosial. Salah satu yang mempopulerkan adalah akun Twitter @thepopoh.

Screen Shot 2013-11-11 at 3.19.30 AM

“Wah, pokoknya gara-gara foto itu, teman di Facebook saya bertambah lebih dari 300 orang,” ujar Bernardus Prasodjo disusul tawa, saat berbincang dengan Boomee di rumahnya, Jl Kalipasir, Cikini, Minggu (10/11).

“Tapi jangan sebut saya ilustrator keluarga di kaleng Khong Guan itu kalau belum konfirmasi ke pihak Khong Guan. Siapa tahu mereka punya versi cerita sendiri,” ujarnya.

“Tapi, kalau mau dengar versi saya, begini ceritanya…”

Bernardus Prasodjo, Mendadak Terkenal Karena Khong Guan

 




Cerita Bernardus Prasodjo soal Gambar Khong Guan

Saya ini dulu tukang gambar. Kalau sekarang bahasa kerennya, graphic designer.

Suka gambar dari kecil, lalu masuk Fakultas Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kuliah cuma dua tahun, karena sering bolos dan terlalu asyik ngerjain order-an.

Saat kuliah di ITB saya sewa kost di jalan Lekong Kecil, tak jauh dari kantor redaksi majalah Aktuil; jadi saya sering main dan nongkrong di situ. Lalu, saya sempat bikin komik strip untuk Aktuil.

Dari Bandung saya pindah ke daerah Roxy, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di dekat situ, tepatnya di jalan Biak, ada perusahaan separasi warna. Tahu saya bisa menggambar, mereka sering kasih kerjaan ke saya.

Perusahaan separasi warna itu juga yang memberi saya kerjaan ilustrasi untuk kaleng biskuit Khong Guan, lupa tahun berapa, yang jelas saat itu usia saya 24 tahun. (Usia Bernardus kini 66 tahun, artinya saat itu sekitar 1971, tepat saat Khong Guan Merah mulai diproduksi di Indonesia -red).

Ide gambarnya bukan dari saya. Pokoknya saya dikasih contoh gambar (seorang ibu dan dua anak duduk memutari meja) tidak berwarna di kertas yang sudah lecek. Ya sudah saya hanya mengubah gambar itu seperlunya, dan mewarnainya sesuai pesanan.

Sejak itu saya mulai sering mendapat pesanan menggambar di kemasan, seperti wafer Nissin, sampai kemasan produk-produk CV Hero jaman dulu seperti agar-agar dan sirop.

Semua gambar itu saya bikin menggunakan cat air merek Guitar, di atas kertas gambar yang sebelumnya saya elap dulu pakai kapas basah.

Lama-lama, pesanan gambar makin sedikit, dan mulai banyak yang menanyakan kesediaan saya menggarap ilustrasi sekaligus layout buku. Akhirnya, saya beralih ke usaha setting dan tata letak buku.

Memasuki akhir 1980-an, urusan meng-edit dan mencetak foto lebih cocok untuk menjaga kelangsungan usaha. Maka saya mengalihkan usaha jadi tempat cetak foto; namanya Pandu Photo. Saat itu, saya membeli mesin Fuji, termasuk salah satu yang paling canggih di Jakarta saat itu.

Awal 2000-an, perkembangan teknologi foto digital membuat saya harus berani berhenti; saya pikir, pertumbuhannya terlalu cepat dan berat dari sisi bisnis. Pas juga anak-anak saya sudah bekerja semua, jadi saya pikir sudah lah

Maka saya pun berbelok ke minat lain saya, pengobatan alternatif Prana. Saya mendapatkan lisensi sebagai penyembuh dan pelatih dari Filipina, maka saya coba populerkan di Indonesia.

Facebook saya gunakan untuk mempromosikan tentang penyembuhan Prana. Blog juga begitu, bisa dilihat di pranaindonesia.wordpress.com.

Bagi saya, tidak ada yang terasa paling istimewa. Saya hanya menjalani hidup saja. Seperti soal Khong Guan, ya biasa saja, memang itu pekerjaan saya, ya saya kerjakan, lalu dibayar, habis itu ya sudah… Lupakan.

Yang terpenting adalah mencintai apa yang kita kerjakan. Nggak usah mikirin uang. Kalau kita senang, seberat dan selelah apapun kita akan menikmati; lalu rezeki akan datang dengan caranya sendiri.

Saya ini nggak lulus kuliah, tapi bisa jadi dosen. Yang terpenting adalah pengalaman. (Bernardus Prasodjo sempat mengajar graphic design, typography, dan reproduksi warna digital di LPKT Gramedia -red).

Saya senang lihat meme tentang ilustrasi Khong Guan, lucu! Mungkin, kalau saya masih muda, saya akan melakukan hal yang sama, ha-ha-ha!


 

Kini, selain giat berbagi tentang penyembuhan alternatif Prana, Bernardus Prasodjo juga menikmati masa tua bersama cucu, di rumah yang penuh lukisan buatannya.

bprasodjo2

Menurut kamu, artikel ini
  • 42
  • 14
  • 5
  • 3
  • 3
Bagikan artikel ini

Beri komentar

© Copyright 2016 - Boomee.
Jl. Kerinci 1 No. 2, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE