Boomee

Kontroversi Kebijakan Walikota Bogor Larang Perayaan Asyura

Kontroversi Kebijakan Walikota Bogor Larang Perayaan Asyura

Walikota Bogor, Bima Arya, menuai sorotan netizen setelah menerbitkan surat larangan perayaan Asyura bagi penganut Syiah di Kota Bogor. Alasan pelarangan disebut adalah untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta mencegah konflik sosial.

Larangan perayaan Asyura ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor 300/1321- Kesbanggpol tentang Himbauan Pelarangan Perayaan Asyura di Kota Bogor. “Diterbitkanya surat edaran pelarangan itu karena adanya keberatan dari warga, karena jika tetap diadakan perayaan Asyura maka akan terjadi konflik sosial di Kota Bogor,“ kata Bima Ayra saat dihubungi Tempo pada Jumat (23/10).

Larangan tersebut sontak melahirkan kontroversi, termasuk di media sosial. Di Twitter, buzz nama “Bima Arya” terpantau melonjak hingga mencapai 2,167 kicauan dalam sehari.

Sebagian pengguna Twitter mendukung pelarangan perayaan Asyura. Tetapi, tentu saja, banyak juga yang menyindir dan mengecam. Bahkan, segelintir menyebut pelarangan ini dilakukan Bima Arya untuk mencari dukungan politik.

Ridwan Kamil Perbolehkan Perayaan Asyura

Berbeda dengan Bima Aria, walikota lain yang juga sangat populer, Walikota Bandung Ridwan Kamil, memperbolehkan perayaan Asyura dilakukan di kotanya.

Walau ada penolakan langsung dari kelompok kecil masyarakat, perayaan yang digelar di Stadion Sidolig Kota Bandung, pada Jumat, 23 Oktober 2015 tersebut kabarnya berjalan lancar. Sikap Walikota Bandung ini mendapat apresiasi warga, diperbandingkan dengan sikap Walikota Bogor, dan–tentu saja–ada pula yang mempertanyakan.

Syiah Tidak Dilarang MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dilansir BBC News, menyatakan tidak pernah melarang ajaran Syiah di Indonesia. Hanya saja, MUI menghimbau umat Islam agar meningkatkan kewaspadaan tentang kemungkinan beredarnya kelompok Syiah yang ekstrim, yakni Syiah Ghulat dan Rafidhah.

“Dikeluarkannya surat MUI pada tahun 2004 bahwa sesungguhnya kita tidak punya posisi untuk mengatakan bahwa Syiah itu sesat,” kata Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi, pada Minggu (25/10) malam.

MUI juga menilai larangan perayaan Asyuro bagi penganut Syiah di Kota Bogor sebagai tindakan yang sangat berlebihan. Pemerintah daerah dianggap tidak seharusnya bereaksi hingga mengeluarkan pelarangan terkait kegiatan keagamaan tersebut.

Bagi kalangan penganut Syiah, Asyura merupakan peringatan kematian cucu Nabi Muhammad, Hussein, yang tewas dalam pertempuran pada abad ke-7 di Karbala, Irak.

MUI menilai asyuro hanyalah sebuah ritual keagamaan. Banyak masyarakat Islam yang juga melaksanakan ritual serupa, salah satunya masyarakat di beberapa daerah di pulau Jawa.

Selain melarang kegiatan perayaan Asyura, Pemkot Bogor juga melarang penganut Syiah ‘memobilisasi masyarakat atau mendatangkan anggota Syiah dari luar Bogor’.

Menurut kamu, artikel ini
  • 5
  • 1
  • 1
  • 5
  • 1

Beri komentar

© Copyright 2018 - Boomee.
Jl. Dempo I No. 47, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE