Boomee

‘Kengerian’ Media Sosial dalam Kasus Danang

Pada Jumat (28/2) masyarakat dihebohkan aksi Danang Sulistyo asal Sleman, Yogyakarta yang melakukan penembakan terhadap seekor kucing dan memamerkan foto jasad kucing yang telah mati tersebut di akun Facebook pribadinya.

Dalam foto Danang, tampak jasad sang kucing yang berlumuran darah di bagian kepala. Danang juga menyertakan pesan yang menunjukkan ia bangga telah menggunakan senapannya untuk membunuh kucing.

Anak kucing ini meregang nyawa di ujung laras Sharp TIGER baru saya. Kucing naas ini menjadi korban keganasan proyektil kaliber 4,5 mm yang dilesatkan senapan baru saya. Kucing ini saya tembak dari jarak sekitar 20 meter dengan kekuatan 12 kali pompaan. Hasilnya, peluru menembus bagian rahang kucing dan melaju terus hingga keluar dari wajah kucing. Kucing sempat mengalami kejang-kejang dan akhirnya mati 2 menit kemudian. 1 shot 1 kill. hahahaha….,” demikian tulis Danang.

Melihat aksi sadis Danang, sejumlah pengguna geram dan mengunggah ulang foto Danang di Path dan Twitter dengan disertai hujatan.

Imbasnya menjadi di luar kendali. Aksi Danang diketahui masyarakat luas hingga para aktivis. Mereka pun mulai bereaksi. Danang dibuatkan petisi di Change, bahkan dilaporkan ke polisi dengan pasal 302 KUHP tentang perlindungan hewan.

Buntutnya, Danang dipecat dari tempat kerjanya pada Selasa (4/3). Alasannya karena kecaman deras untuk Danang di dunia maya, dan perusahaan tempat ia bekerja tidak mau diikut-ikutkan, seperti dilansir tempoco. Danang pun menjadi pengangguran sementara harus menanggung istri dan seorang anaknya yang masih kecil.

Apa yang dialami oleh Danang hingga dipecat dari pekerjaannya merupakan salah satu contoh makin sulit dibedakannya ranah pribadi dan ranah publik di media sosial. Danang menambah daftar orang yang menjadi korban pemecatan karena perilaku ‘kebablasan’ dalam berjaring sosial.

Tentunya kita masih ingat pada Desember 2013, saat banjir kecaman untuk Justine Sacco dari publik dunia karena berguyon rasis tentang Afrika di Twitter. Ironisnya, ia membuat kicauannya saat hendak menuju Afrika Selatan. Sacco langsung dipecat dari perusahaannya begitu turun dari pesawat.

Kekuatan media sosial kini sudah sangat dahsyat hingga dapat menentukan karir dan pekerjaan. Bahkan sekarang sudah lazim perusahaan-perusahaan memantau perilaku seseorang di media sosial dan menjadikannya referensi keberlangsungan ikatan kerja.

Jika disadari hal ini memang ‘ngeri’, karena artinya media sosial sudah sampai di posisi sebagai alat publik yang dapat mengatur ranah personal. Perannya tentu masih bisa berkembang lebih jauh lagi dan lebih menyeramkan.

Pemahaman etika di media sosial pun mungkin hanya mampu membendung, tanpa benar-benar mencegah. Strategi yang baru terbukti ampuh adalah kemampuan menyikapi jika sudah terlanjur terjadi.

Lantas, apakah ini berarti media sosial sudah mulai kehilangan hakikatnya sebagai ‘jendela’ publik? Karena dengan mengetahui kekuatan media sosial sekarang, kita justru ingin mengisolir kedua ranah tersebut, agar yang pribadi tetap menjadi pribadi dan yang publik tetap menjadi publik.

Menurut kamu, artikel ini
  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
  • 1
Bagikan artikel ini

Beri komentar

© Copyright 2016 - Boomee.
Jl. Kerinci 1 No. 2, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE