Boomee

Ketika Ridwan Kamil Sentil Jasa Cyber Bullying

ridwankamil

Makin rupa-rupa saja ide bisnis di era digital saat ini, sampai ada yang menghalalkan segala cara.

Salah satunya adalah jasa perundungan lewat internet atau cyber bullying, yang diungkap oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

Lewat akun Instagram miliknya, laki-laki yang akrab disapa Kang Emil itu pada Kamis (4/8) mengunggah sebuah foto tangkapan layar yang berisi promosi tawaran jasa cyber bullying.

Menurut promosi tersebut, layanan yang ditawarkan oleh sang pemberi jasa bisa dilakukan pada setiap akun media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, askfm, hingga email.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, tergantung fasilitas media sosial yang digunakan, kisarannya dari Rp10 ribu sampai Rp75 ribu.

Yang paling unik, pihak pemberi jasa memberikan jaminan bahwa dosa dari aktivitas bullying akan mereka tanggung di akhirat kelak.

Gagal paham dengan kehadiran jasa negatif seperti ini, Kang Emil pun menyelipkan sedikit nasehat kepada para pengikutnya dalam mencari penghasilan.

“Hey pemuda harapan pemudi, pilihlah pekerjaan dan kehidupan yang bermanfaat buat masyarakat. Jika tidak bisa bermanfaat, minimal tidak jadi problem. Jadilah pribadi yang menghadirkan spirit #PositiveLife,” tulis Ridwan Kamil.

Jasa cyber bullying yang diunggah Kang Emil langsung ramai ditanggapi oleh para netizen. Tak hanya di Instagram saja, topik tersebut juga menghadirkan perbincangan di linimasa Twitter.

Mayoritas netizen pun sama kagetnya dengan Kang Emil, dan mengaku merasa miris dengan mereka yang mencari peluang usaha dari cyber bullying.

Orang Indonesia Senang Di-Bully

Cyber bullying sudah dianggap hal yang tidak lazim bagi para pengguna Internet di Indonesia. Aksi mengejek, menghina, atau mengintimidasi orang lain di dunia maya seringkali ditemukan, mulai dari kepada tokoh politik terkemuka, hingga kepada akun anonim sekalipun.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Narendra Jatna mengungkapkan bahwa bangsa Indonesia semakin senang jika ditindas.

Dilansir vivacoid, Narendra menilai hal tersebut dikarenakan karakter bangsa kita yang melankolis. Mereka yang diejek cenderung akan menjadi sama ‘dramanya’ dengan mereka yang mengejek.

“Kita lupa kalau kita itu bangsa melankolis. Semakin ditindas, makin senang, dan makin simpati. Dari lagu saja tipikal aliran melow, mendayu-dayu. Beda dengan bangsa lain, yang lagunya semangat, tegas,” ujar Narendra dalam Talkshow dengan tema ‘Tinjauan Sosio-Yuridis Cyber Bullying dalam Era Media Sosial’ di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada Senin (1/8).

Menurut kamu, artikel ini
  • 0
  • 0
  • 2
  • 1
  • 1

Beri komentar

© Copyright 2018 - Boomee.
Jl. Dempo I No. 47, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE