Boomee

Lewat #SaveRRI, Linimasa Tak Ingin RRI Dibubarkan

volunteer

Sejak Senin (14/7) kemarin, tagar #SaveRRI ramai dibicarakan di linimasa Twitter terkait hasil hitung cepat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Obrolan tentang #SaveRRI terus bergulir hingga Selasa (15/7) ini, bahkan tagar tersebut mampu bertengger di dalam kumpulan topik terpopuler Twitter.

Tagar tersebut muncul dikarenakan Radio Republik Indonesia (RRI) akan dipanggil Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang penyangan hasil hitung cepat di beberapa media yang dilakukan pada Pilpres 9 Juli lalu dengan menggelar audiensi bersama jajaran direksi radio yang memiliki moto Sekali di Udara, Tetap di Udara. Bahkan RRI dikabarkan akan dibubarkan.

Seperti yang diketahui, pada Pilpres kemarin RRI mencatat kemenangan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) unggul 52.51% dibandingkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang hanya memperoleh 47.49%. Hasil hitung cepat ini tak berbeda jauh dengan hasil lembaga survey lainnya seperti LSI, CSIS, Litbang Kompas, dan Cyrus Network.

Namun, beberapa pihak menuding RRI merupakan lembaga yang tak layak melakukan dan mempublikasikan hasil hitung cepat karena bukan komposisinya untuk melakukan hitung cepat. Seperti yang dikatakan Iswandi Syahputra, pengamat komunikasi politik dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, bahwa RRI tidak punya tradisi melakukan survei atau hitung cepat.

Selain itu, RRI tidak memiliki Sumberdaya Manusia (SDM) untuk memetakan aset internal karena RRI mempunyai jaringan SDM terluas tetapi SDM tersebut adalah penyiar dan reporter. Lalu, dengan memberikan hasil unggul pada pasangan Jokowi-JK di Pilpres ini, RRI sebagai lembaga independen dicurigai memberikan hasil hitung cepat yang memihak.

Menurut kamu, artikel ini
  • 0
  • 0
  • 1
  • 0
  • 0
Bagikan artikel ini

Beri komentar

© Copyright 2016 - Boomee.
Jl. Kerinci 1 No. 2, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE