Boomee

‘Malak’ THR ke Perusahaan, Ormas FBR Dikecam Netizen

'Malak' THR ke Perusahaan, Ormas FBR Dikecam Netizen

Organisasi masyarakat Forum Betawi Rempug (FBR) tengah menuai sorotan dari netizen setelah secara terbuka meminta pungutan liar dengan embel-embel ‘Tunjangan Hari Raya (THR)’ kepada para pengusaha yang ada di sekitarnya.

Permintaan THR itu terlihat lewat surat berkop dan berstempel FBR Koordinator Wilayah Tangerang Selatan, Banten yang tersebar di dunia maya. Tertera penjelasan bahwa inti dari surat tersebut adalah memaksa secara halus agar para perusahaan di kawasan Tangerang Selatan memberikan uang THR kepada ormas FBR.

Diyakini surat tersebut awalnya difoto dan diunggah oleh seorang pengguna Facebook bernama Surya Arief Widyanto pada Rabu (8/7).

Terpantau hingga Kamis (9/7) pagi, foto tersebut telah di-share oleh lebih dari 1800 pengguna Facebook lainnya.

“Setiap ada orang buka usaha, pasti dah. Emang kerjaan nya tukang minta-minta ya? Mending kasih ke panti asuhan atau yayasan resmi yang nyata-nyata lebih berhak,” tulis akun Facebook Surya.

Sontak surat ‘pemalakan’ tersebut membuat netizen bereaksi sinis dan memberikan komentar negatif. Mereka menilai tindakan ormas yang didirikan Alm. KH. A. Fadloli El Muhir sangat tidak pantas dengan meminta pungutan liar dari para pengusaha menjelang Idul Fitri.

Sebagian dari netizen juga merasa lebih rela memberikan uang kepada fakir miskin yang benar-benar membutuhkan, bukan untuk para anggota FBR yang sudah mereka anggap seperti preman.

Surat Serupa Juga Beredar 2 Tahun Lalu

Surat edaran pungutan liar dari FBR Koordinator Wilayah Tangerang Selatan diketahui bukan yang pertama. Berdasarkan penelusuran Twitter, pada Agustus 2013 surat serupa juga beredar di dunia maya dan mendapat kecaman netizen.

Embel-embelnya pun sama, meminta jatah THR kepada para pengusaha. Bedanya, surat tersebut dikirimkan oleh FBR Koordinator Cengkareng Barat, Jakarta.

Aturan THR

Dapatkah FBR menerima THR dari para pengusaha? Jika mengacu pada ketentuan mengenai Tunjangan Hari Raya Keagamaan yang diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 4 Tahun 1994, FBR tak berhak menerimanya.

Berdasarkan Permenaker No. 4 Pasal 1, THR wajib dibayarkan oleh pengusaha hanya kepada pekerjanya. Pasal 2 ayat 1 Permenaker No. 4 menyatakan pengusaha wajib memberikan THR kepada pekerja yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerus atau lebih.

Oleh karenanya, permintaan FBR bertentangan dengan peraturan dan murni merupakan pungutan liar.

Menurut kamu, artikel ini
  • 1
  • 0
  • 3
  • 4
  • 2

Beri komentar

© Copyright 2018 - Boomee.
Jl. Dempo I No. 47, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE