Boomee

Perkara Hanung Bramantyo dan Seksisme Laki-Laki di Dunia Film

Film Terpopuler Path

Perkara Hanung Bramantyo dan Seksisme Laki-Laki di Dunia Film
 
Gara-gara memberi pernyataan bernada seksis, sutradara Hanung Bramantyo menuai protes dari masyarakat.

Semua berawal dari sebuah sesi wawancara oleh kompascom pada Sabtu (4/11) dalam rangka promosi film terbarunya, Benyamin Biang Kerok. Sekilas tidak ada yang ganjil dalam artikel tersebut. Hanya saja, ada kutipan dari Hanung yang dianggap tidak pantas untuk disampaikan.

Saat berbicara mengenai regenerasi aktor di Tanah Air, Hanung mengaku kesulitan. Ia berkata bahwa lebih mudah untuk mencari aktris baru, karena menjadi aktris bisa hanya dengan bermodalkan kecantikan fisik.
 


 




 
Suami aktris Zaskia Adya Mecca tersebut dituding meremehkan kemampuan akting pemeran perempuan. Bahkan aktris Hannah Al Rashid pun turut menyayangkan hal tersebut.
 


 
Tak hanya di Twitter, Hannah juga membahas komentar Hanung Bramantyo di Instagram Stories. Aktris lainnya Tara Basro pun ikut mempertanyakan soal pernyataan Hanung tersebut. “Seriously? @hanungbramantyo”.

Selain itu, rekan Hanung sesama sutradara, Dimas Jay juga ikut mengkritik. “Teman sih teman tapi sepertinya saya tidak setuju dengan statement beliau,” kata Dimas di Instagram Storiesnya.
 


 
Sumber foto: kapanlagicom
 




 

Klarifikasi Hanung Bramantyo: Tak Sesuai Konteks!

Terkejut dengan besarnya dampak pernyataan yang dibuatnya, Hanung pun memberikan klarifikasi lewat akun media sosial miliknya. Ia meminta maaf kepada Hannah dan mengatakan konteks ketika wawancara tidak seperti yang tercantum dalam pemberitaan.

Menurut Hanung, konteksnya saat wawancara dengan media ditafsirkan berbeda.
 


 
Hanung pun mencoba menjelaskan duduk perkara mengapa pemberitaan dan komentarnya jadi seperti itu. Tidak hanya diposting di Twitter, klarifikasi Hanung tersebut juga diunggah di akun instagram miliknya.
 

Klarifikasi atas artikel Kompas.com 1.Pernyataan yg tertulis diatas konteksnya adalah kenapa sy selalu bekerja dg Reza Rahadian. Tidakkah ada bibit baru? 2. Sy jawab : mudah mencari bibit baru tapi sulit mrenjadikannya populer. Seolah syaratnya banyak. 3. Meski memiliki kemampuan acting yg bagus, aktor pria tidak mudah meraih popularitas dikalangan pecinta film anak-anak muda. 4. Berbeda dg aktris yg hampir tiap 2-3th selalu muncul wajah baru. 5. Kalimat saya : ‘asal cantik doang’ jg sy sampaikan tidak dalam konteks yg serius spt yg dikutipkan. 6. Sy sadar bhw s’org aktor harus punya kemampuan menghidupkan jiwa pada tokoh yg diperankan. Tak sekedar menyoal tubuh. 7. Sayangnya wartawan sekedar mengutip begitu sj ucapan sy tanpa menyelipkan penjelasan konteksnya. 😰 8. Barangkali krn keterbatasan ruang yg disediakan untuk memaparkan berita. 9. Mohon maaf jika pernyataan sy t’kesan merendahkan profesionalisme aktor perempuan. Sungguh Itu bukan maksud saya. Salam hormat 🙏🙏 ( diambil dari pernyataan saya di Twiter )

A post shared by Hanung Bramantyo (@hanungbramantyo) on


 
Hanung menganggap bahwa wartawan kompascom mengutip begitu saja ucapannya tanpa menyelipkan penjelasan konteksnya. Ia pun lanjut memohon maaf jika pernyataannya terkesan merendahkan profesionalisme aktris.

Klarifikasi Hanung mendapat dukungan dari aktris Laudya Cynthia Bella lewat komentar Instagram. Menurut Laudya, sudah sering terjadi artikel berita yang berbeda dari pernyataan awal narasumber sehingga membuat salah paham.

Begitu juga dengan aktris Ayushita. Menurutnya pemberitaan yang tidak valid sejatinya bisa berakibat fatal kepada narasumber yang diberitakan.
 

 
Terlepas dari pernyataannya yang kontroversial, Hanung terbilang mengambil langkah yang berani dengan menggarap film versi terbaru dari Benyamin Biang Kerok.

Film tersebut sempat menghiasi layar lebar era 1970-an dengan pemeran utama mendiang Benyamin Sueb. Demi memunculkan karakter Benyamin versi zaman sekarang, Hanung memilih aktor Reza Rahadian sebagai tokoh Benyamin.

Benyamin Biang Kerok akan tayang Maret 2018. Nantinya, akan ada lanjutan film ini, yakni Biang Kerok Beruntung.
 

Seksisme di Industri Perfilman

Seksisme atau bentuk perilaku diskriminatif terhadap gender sudah bukan menjadi barang baru di industri hiburan yang didominasi oleh para laki-laki. Bahkan di level Hollywood pun, perilaku seksisme terhadap perempuan dinilai kental.

Aktris Reese Witherspoon punya cara sendiri menangani seksisme di layar lebar. Ia menciptakan rumah produksi sendiri pada 2012 dengan nama Pacific Standard yang menganut idealisme feminis.

Reese tidak sendiri mendobrak dominasi laki-laki di Hollywood. Sebelumnya, veteran Hollywood Geena Davis bahkan sampai mendirikan Institute on Gender in Media pada 2007. Tujuannya untuk meningkatkan persentase tokoh perempuan dalam film.

Geena Davis dan Susan Sarandon sebelumnya menunjukkan pada Hollywood bagaimana seharusnya mereka menyajikan peran wanita. Ini dilakukan keduanya pada 1991 melalui film Thelma dan Louise.

Laporan Vocativ pada 2013 terhadap analisis 50 film terlaris di tahun itu, hanya 24 yang lulus bias gender. Itu pun, berdasar pada penelitian mereka, 7 dari 24 film dianggap “meragukan” karena sebagian besar dialog antara karakter wanita adalah tentang laki-laki.

Selain itu, Versha Sharma dan Hanna Sender—dua orang penelitinya—mencatat bahwa dari 50 film, hanya satu yang disutradarai oleh seorang wanita, yaitu film Frozen.

Kesenjangan gender ditemukan baik di depan maupun di belakang kamera. Kasus terbaru terkait diskriminasi perempuan di Hollywood adalah kasus pelecehan seksual produser Harvey Weinstein. Satu per satu aktris Hollywood mulai mengaku pernah menjadi korbannya.

Hingga berita ini ditulis, sudah lebih dari 50 orang perempuan menuduh Harvey Weinstein melakukan pemerkosaan hingga pelecehan seksual. Kasus tersebut pun masih terus bergulir karena Weinstein membantah semua tuduhan yang ditujukan kepadanya.
 

Menurut kamu, artikel ini
  • 0
  • 0
  • 1
  • 0
  • 0
Bagikan artikel ini

Beri komentar

© Copyright 2016 - Boomee.
Jl. Kerinci 1 No. 2, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE