Boomee

Abdullah Azwar Anas, Membangun Kebanggaan Warga Banyuwangi

Abdullah Azwar Anas
Banyuwangi merupakan sebuah daerah yang populer di mata dunia wisata akan pesona alamnya. Selain wisata, daerah di Provinsi Jawa Timur ini bergeliat maju dalam kepemimpinan Abdullah Azwar Anas. Kepedulian dan pengabdiannya terhadap kemajuan Banyuwangi membuat Abdullah Azwar Anas dielukan masyarakatnya.

Abdullah Azwar Anas lahir di Banyuwangi 43 tahun yang lalu, tepatnya 6 Agustus1973. Bapak muda dengan satu orang anak ini menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Pendidikan di IKIP Jakarta, Sarjana Sastra dan S2 Ilmu Sosial -Politik di Universitas Indonesia.

Anas tumbuh di lingkungan pesantren, ia pun menjadi tipikal anak muda yang gigih dan aktif. Sejak masuk kuliah ia sudah aktif bekerja sampingan. Mulai dari reporter radio, menjadi editor berita, hingga surveyor lembaga riset pernah ia jalani. Tak luput pula terus aktif di organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan pernah menjabat sekjen di organisasi tersebut.

Aktif dalam organisasi dan sudah bekerja profesional sejak usia masih sangat muda, membuatnya dibekali wawasan luas dalam pergaulannya. Tercatat saat ia berumur 24 tahun dan masih berstatus mahasiswa terpilih menjadi anggota utusan golongan MPR RI.

Melesatkan Banyuwangi dengan Pembangunan di Segala Aspek

Karir politiknya dimulai pada 2004 saat Anaz terpilih menjadi anggota DPR RI. Namun ia merasakan kegagalannya melaju sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014, yang menjadi berkah tersembunyi baginya.

Kegagalan itu membuatnya fokus untuk maju pilkada Banyuwangi 2010. Berbekal pergaulan dan wawasan yang luas di kota basis NU itu, Anaz pun terpilih menjadi Bupati Banyuwangi.

Memiliki latar belakang sarjana teknik pendidikan dan kemampuan organisasi yang mumpuni menjadi modal kuat Anas membangun Kabupaten Banyuwangi. Ia sadar betul betapa pentingnya meningkatkan kemampuan SDM PNS Banyuwangi. Dalam merekrut CPNS, Pemkab Banyuwangi mensyaratkan standar IPK minimal 3,5 dari skala 4,0.

Anaz pun peduli dengan pendidikan kota Banyuwangi, hal tersebut dengan memfasilitasi berdirinya tiga PTN. Semula Banyuwangi tidak memiliki PTN, namun kini telah ada Politeknik Negeri Banyuwangi, Universitas Airlangga Banyuwangi, serta Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang (LP3) Banyuwangi milik Kementerian Perhubungan.

Ia juga konsisten membuat pelatihan-pelatihan bagi PNS-nya agar mampu menjalankan roda pemerintahan Banyuwangi secara mandiri. Programnya telah berhasil menggerakkan aparat birokratnya untuk terjun langsung menangani puluhan acara Banyuwangi Festival, tanpa melibatkan Event Organizer (EO).

Bapak muda ini bahkan memberikan pendidikan berbahasa Inggris secara gratis bagi 6.500 anak muda di Banyuwangi agar mampu berkomunikasi dengan tamu-tamu yang datang ke daerahnya. Bahkan tercatat pula beliau berhasil mengubah pola pikir masyarakat sehingga menjadi lebih ramah kepada masyarakat luar. Masyarakat Banyuwangi sekarang tidak kental dengan hal berbau klenik dan ilmu ghaib.

Abdullah Azwar Anas Membangun Kebanggaan Warga Banyuwangi

Abdullah Azwar Anas meyakini sebuah kota tidak akan bisa berkembang dan maju jika warganya belum merasa bangga serta percaya diri dengan kotanya sendiri. Namun perlahan ia pun berhasil menumbuhkan kebanggaan masyarakat Banyuwangi akan daerahnya. Sebelumnya orang-orang asli Banyuwangi merasa malu dengan identitas kedaerahannya.

Kebijakannya membangkitkan kebanggaan daerah juga sangat tampak dari arah pembangunan fisik. Berbagai bangunan di Banyuwangi ia ubah menggunakan gaya arsitektur Using (suku asli Banyuwangi). Baginya arsitektur merupakan cerminan sikap politik dan pilihan kebijakan Pemerintah Daerah.

Agar pembanguan fisik lebih menonjolkan karakteristik arsitektur Using, ia melibatkan sejumlah arsitek ternama, budayawan, dan arsitek lokal. Hasilnya Anaz mampu membuat ikon-ikon baru Banyuwangi seperti Bandara, Stadion Diponegoro, Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Hotel, Gedung Perpustakaan, dan Politeknik Negeri Banyuwangi.

Tata lingkungan kota dan sarana-prasarana transportasi terus dibenahi. Ia memperbesar kapasitas bandara di Banyuwangi serta memperbaiki berbagai akes jalan. Tak lupa pula mengontrol tumbuhnya penerbitan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Pertumbuhan bangunan-bangunan baru harus mau mengikuti aturan tata ruang rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di Banyuwangi.

Ultimatum terhadap tata kota ialah saat Anaz melarang pendirian mall, serta menetapkan jika harga di pasar modern harus lebih mahal dari pasar tradisional. Ia mencoba mengangkat ekonomi warung dan toko milik masyarakat secara optimal.

Abdullah Azwar Anas sangat memperhatikan kebersihan dan keindahan di sejumlah ruang publik dan ruang terbuka hijau (RTH). Tim reaksi cepat pesapon disiagakan secara bergilir untuk tetap menjaga kebersihan di ruang fasilitas publik. Gerakan-gerakan warga dalam sedekah oksigen dan tanam pohon di halaman rumah juga diserentakkan mendorong penghijauan di Banyuwangi.

Bagi Anas, Banyuwangi harus mengubah pandangan khalayak luas, tak boleh terkesan garang dan tidak ramah, apalagi pernah terkenal dengan kasus dukun santet. Kota yang hijau dengan banyak ruang terbuka akan memberikan kesan ramah.

Hasilnya sekarang Banyuwangi tampak bersih, rapi, dan ramah. Arsitektur hijau dengan ciri lokal yang kuat mengubah wajah Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi sekarang memiliki karakter lokal yang kuat. Banyuwangi mendapat penghargaan Adipura dan mendapat predikat cagar biosfer dunia atas capaiannya tersebut.

Prestasinya mengubah wajah Banyuwangi yang paling fenomenal adalah berhasil mengubah citra Banyuwangi dari kota dukun santet menjadi destinasi wisata nasional bahkan internasional.




Banyuwangi Kini Lebih Ramah Teknologi

Salah satu keinginannya ialah memiliki ruang publik, taman kota, benar-benar menjadi tempat berkumpul yang nyaman bagi masyarakat. Untuk itu Anaz pun menyediakan wifi di taman-taman kota. Saat ini ada 1.200 titik wifi di Banyuwangi dan akan terus ditambah hingga 10.000 titik wifi.

Di sektor wisata Anaz telah berhasil mengerakan masyrakat untuk membenahi Kawah Ijen, Gunung Ijen. Tak pula pula membenahi pantai-pantai di Banyuwangi, di antaranya Pantai Teluk Hijau dan Pulau Merah.

Ia mengerakan masyarakat untuk mengadakan festival-festival. Ada puluhan festival tiap tahunnya di Banyuwangi. Tahun 2015 ada 38 festival dan tahun 2016 ada 58 festival. Di antara festival tersebut adalah Festival Arung Kanal, Festival Perahu Layar, Underwater Festival, Festival Tubing Sungai Badeng, Festival Tanam Padi, Festival Perikanan, International Tour de Banyuwangi Ijen, Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, dan Batik Festival.

Pembeda festival di Banyuwangi dengan daerah lain adalah serba lokal, sangat kental dengan budaya asli Banyuwangi. Busana-busana dalam festival Banyuwangi adalah karya masyarakat lokal. Masyarakat bergerak untuk membuat karya busana sendiri demi kebanggaan kotanya. Hotel-hotel juga dihimbau menyediakan makanan dan buah lokal.

Abdullah Azwar Anas merupakan sosok yang tak jeli memanfaatkan perkembangan teknologi. Salah satunya untuk cepat mengerakan warga, ia memanfaatkan media sosial yang ada, mulai dari Facebook, Twitter, sampai dengan Whatsapp. Media sosial memang biasa ia gunakan untuk menerima pengaduan warga yang kemudian akan diteruskan pada Whatsapp grup SKPD. Dengan cara online ini ia menargetkan paling lama 4 jam masalah warga harus sudah tertangani.

Sekarang tidak ada yang meragukan kemajuan yang telah dicapai Banyuwangi. Bahkan dilaporkan jika pendapatan per kapita Banyuwangi melonjak 62 persen dari Rp 20,8 juta per orang per tahun (2010) menjadi Rp 33,6 juta (2014), dan pada 2015 diprediksi menembus Rp 38 juta.

Penumpang yang mendarat di Bandara Blimbingsari semula 7.826 orang pada tahun 2011 melonjak menjadi 110.234 orang tahun 2015. Tak hanya itu, jumlah penduduk miskin berkurang dari 20% menjadi 9% dari total penduduk.

Banyuwangi mendapat penghargaan oleh UNWTO (United Nations World Tourism Organization) atau lembaga PBB yang bergerak di bidang pariwisata. Banyuwangi juga mendapat banyak pernghargaan di antaranya Investment Award, Government Award, Indonesia Green Awards, Satya Lencana, dan Penghargaan Transportasi.

Secara pribadi Abdullah Azwar Anas juga mendapat beberapa penghargaan, di antaranya gelar Indonesia Marketing Champion, Progressive Leader, dan Best Regional Achievers untuk kategori Best Marketer Regent.

Pergaulan luas, kemampuan marketing mumpuni, melibatkan berbagai pihak termasuk media lokal dan nasional, dan terpenting kemampuan organisatoris untuk menggerakan warga dan PNS Banyuwangi, mampu memunculkan Banyuwangi baru.

Banyuwangi destinasi wisata Nasional dan Internasional.

Banyuwangi The Sunrise of Java.

20161007-02-Abdullah-Azwar-Anas-tempo

Nama Lengkap: Abdullah Azwar Anas
Jabatan: Bupati Banyuwangi ke-28
Mulai Menjabat: 21 Oktober 2010
Periode Jabatan Saat Ini: Periode kedua, 2016-2021
Partai Politik: Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Almamater: SMA Negeri 1 Jember, IKIP Jakarta dan Universitas Indonesia.
Akun Twitter: @a_azwarnas
Akun Facebook: Abdullah_Azwar_Anas 

Menurut kamu, artikel ini
  • 1
  • 0
  • 0
  • 0
  • 0
Bagikan artikel ini

Beri komentar

Please enter the CAPTCHA text

© Copyright 2016 - Boomee.
Jl. Kerinci 1 No. 2, Kebayoran Baru.
Jakarta Selatan 12120 - Indonesia
Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE